Friday, December 19, 2014

Selamat Natal Dan Tahun Baru 2015

Jingle Bell, Jingle Bell Lonceng berbunyi........
Lonceng Natal telah terdengar dimana-mana. Televisi juga mulai ramai dengan berbagai acara bertema Natal. Natal dan akhir Tahun identik dengan musim salju dan cemara.

Tinggal seminggu lagi Natal tiba, dollar mulai melambung tinggi, Lombok juga mulai mahal kembali, konsumsi menjelang Natal dan Tahun baru meningkat. Kereta Api kehabisan tiket. Parlemen mulai sepi dari tenaga ahli dan staff :) itulah suasana natal.

Natal dan Tahun Baru 2015, Natal dengan Presiden Baru. :) Penerimaan Rapor hari ini dan esok hari, Anak sekolah mulai Libur sampai 6 Januari.

Natal adalah Kelahiran Sang Juru Selamat Dunia. Natal
Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikutibintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada.
Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkanmakanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.
Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an . Gerakan ini melahirkan agamaProtestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula.
Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.
Inilah kisah Natal. Natal yang hingga saat ini dirayakan dan tentu sangat berpengaruh terhadap ekonomi.

No comments:

Post a Comment